Kasih Tuhan yang Sempurna, Tak Bersyarat dan Tiada Akhir

Baca: 5 Menit
Arti dari Kasih Tuhan

Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik, bahwa untuk selama-selamanya kasih setia-Nya. Tuhan berkata dalam Matius 11:28, Tuhan Yesus memberikan kelegaan serta ketenangan jiwa.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” 

Setiap kita melangkah, setiap tugas yang kita selesaikan, setiap pekerjaan yang sukses ada penyertaan Tuhan di dalamnya. Kasih Tuhan tak pernah meninggalkan kita, sekalipun kita berpaling, Ia tak akan jauh. Kita sebagai anak-anak Tuhan tak sepantasnya untuk melupakan Tuhan.

Sedikit menyinggung ‘budaya’ dalam berinteraksi sosial dalam era serba canggih nan modern. Kita acap kali dibutakan oleh persepsi orang lain, apa yang orang lain (sosial) inginkan membuat kita melakukannya, entah sadar ataupun tidak.

Jika mereka tidak suka dengan orang yang cerewet, maka kita cenderung tidak banyak bicara saat bersama mereka walaupun sebenarnya bukan itu kepribadian kita, begitu juga sebaliknya.

Seakan kita harus memakai topeng yang ironisnya menjadi beban yang perlahan mengikis kepribadian kita yang sebenarnya. Takut dikucilkan, takut ditinggalkan, dan takut terhadap penilaian orang lain. Hal ini menjadi faktor utama munculnya perasaan insecure.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan; kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1 Yoh 4: 18)

Kita harus memahami arti dari Kasih Tuhan yang sempurna guna mendapatkan ‘keberanian’ untuk menghadapi penilaian orang lain dan lepas dari rasa takut akan hal itu.

Kasih Tuhan yang dinyatakan dalam pengorbanan Yesus di kayu salib seharusnya melenyapkan semua rasa takut kita. Karena dosa kita sudah ditanggungNya di kayu salib sehingga kita punya jaminan akan hari esok.

Seperti cahaya yang menerangi gelap, seperti pentunjuk saat kita tersesat, begitulah Kasih Tuhan dianalogikan.

Filipi 4:6-7

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Efesus 3:18

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,”

Renungan Tentang Kasih Tuhan

Kita hendaknya tak perlu riasau dan hidup dalam rasa takut, karena Tuhan sudah mengasihi kita dengan kasihNya yang sempurna. Dan sudah semestinya kita memberitakan hal ini kepada mereka yang merasa takut.

Tak Bersyarat

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” – 1 Yohanes 4:19

Berbeda dengan kasih manusia yang sering menuntut persyaratan, khusunya hubungan sosial yang mengharuskan untuk saling memberi benefit. Sifat inti dari Allah adalah kasih, kasih yang tak bersyarat atau kasih agave.

Mengasihi seseorang adalah mentaati Tuhan dan perintahNya, demi kebaikan orang lain, mengupayakan berkat dan keuntungan orang lain untuk jangka panjang. Sikap seperti itulah yang seharusnya dimiliki orang yang percaya akan Kristus.

Tak Berkesudahan

“Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!” – Mazmur 117:2

Artinya Kasih Tuhan mengalir untuk selama-lamanya, berbeda dengan apa yang manusia yang sifatnya hanya sementara. Manusia kerap mengukur Kasih Tuhan berupa materi harta benda, menggunakan tolak ukur manusia untuk menilainya. Akan tetapi bagi Allah karakter manusia jauh lebih berharga.

Manusia sering merasa sudah berbuat banyak hal dan telah berjasa terhadap Allah dan karena itu semestinyalah Allah lebih peduli dan lebih memperhatikan dia. Pemikiran seperti itu membuat manusia gagal memahami keberadaan Allah yang penuh cinta kasih.

Kasih yang Sempurna

Dalam kasih, kita membuat hidup kita dipimpin oleh Roh Allah. Dalam kasih, kita menjadi anak-anak Allah. Dalam kasih itu pula, setiap penderitaan yang terjadi dalam hidup kita turut dipermuliakan bersama Kristus yang bangkit.

Melalui pemahaman kita, kasih akan selalu menjadi sesuatu yang kompleks. Akan tetapi, dalam kehidupan yang nyata, kasih menjadi semakin nyata dan sempurna.

Pada akhirnya, kasih menjadi tanda kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Saat kita mampu mengasihi sesama, di situ pula Tuhan berkuasa atas hidup kita dan semakin banyak orang yang mengenal Allah yang mengasihi.

Trending hari ini:
Renungan Firman Tuhan untuk Guru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

topik populer lainnya