Mengapa Alkitab Diterjemahkan ke Dalam Berbagai Bahasa

Baca: 5 Menit
Mengapa Alkitab Diterjemahkan ke Dalam Berbagai Bahasa

Sebelum masuk ke pertanyaan utama, mengapa Alkitab diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa? Lebih baik kita tahu penjelasan secara singkat apa itu Alkitab.

“Bible” atau Alkitab berasal dari Bahasa Latin dan Yunani yang artinya “kitab”, sebutan yang pantas karena Alkitab adalah Kitab bagi semua orang di semua zaman. Ada 66 (enam puluh enam) kitab berbeda yang membentuk Alkitab, seperti Taurat, Imamat, Ulangan, Kisah Para Rasul dan lain sebagainya.

Alkitab dibagi menjadi dua bagian utama, yakni Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bila dijelaskan secara ringkas, Perjanjian Lama adalah kisah mengenai suatu bangsa, dan Perjanjian Baru adalah cerita mengenai seorang Anak Manusia. Bangsa itu adalah cara Allah untuk membawa Anak Manusia itu ke dalam dunia.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Alkitab adalah buku yang berisikan kebenaran Firman Tuhan. Tujuan Alkitab sendiri dituliskan dalam 2 Timotius 3:16 yaitu, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”

Lantas mengapa Alkitab perlu diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, bahkan bahasa daerah sekalipun?

Alasan Mengapa Alkitab Diterjemahkan Dalam Berbagai Bahasa

”Alkitab adalah buku yang paling banyak dibaca sepanjang sejarah. . . . Lebih banyak eksemplar yang telah tersiar dibandingkan dengan buku lain mana pun. Alkitab juga lebih sering diterjemahkan, dan ke dalam lebih banyak bahasa, daripada buku lain mana pun.”—”The World Book Encyclopedia.”

Kita tahu bahwa Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam ribuan bahasa dan dialek di seluruh dunia. Naskah aslinya sendiri diyakini ditulis dalam bahasa Ibrani, Aram dan Yunani kuno. Sesudah para rasul mulai mengabarkan Injil ke tempat-tempat lebih jauh, Alkitab pun diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan dialek. Apa alasan yang mendasari banyaknya penerjemahan Alkitab?

Singkatnya, supaya orang yang membacanya dapat menghayati, mendalami, mempelajari, dan mengamalkannya.

Secara garis besar Penerjemahan Alkitab didasari oleh dua hal penting. Pertama, teladan Tuhan Yesus sebagai Firman yang bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah itu sendiri (Yoh. 1:1-3). Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara mereka, Firman itu datang dan menyatakan diri dalam bahasa dan budaya manusia yang dikunjungi serta dilayanNya.

Firman itu dalam Tubuh manusia Yesus berkomunikasi dalam bahasa manusia, hidup dalam alam natural manusia dan bertindak seperti manusia. Tuhan Yesus menghargai bahasa dan budaya manusia dimana Dia hidup. Ajaran-ajaran yang diberitakanNya pun disampaikan dalam bentuk bahasa manusia agar dimengerti manusia yang menjadi obyek pemberitaan kasihNya.

Hal kedua adalah Peristiwa Pentakosta (Kisah 2 : 1-12). Kejadian ini menggambarkan berita keselamatan Allah yang disampaikan kepada semua manusia sesuai dengan bahasa yang mereka pakai. Kemampuan ini diilhami oleh Roh Kudus sendiri. Bagimanakah kita dapat mengerti firman Tuhan jika ditulis dalam bahasa yang tidak kita mengerti? Syukur kepada Allah, yang menciptakan bahasa-bahasa dan memampukan manusia mengerti bahasa orang lain. Allah kita tidak dibatasi oleh keterbatasan bahasa kita. Allah kita, yang berkuasa menciptakan bahasa, juga akan mengawasi setiap pekerjaan Penerjemahan fimanNya ke dalam bahasa lain.

Tujuan Penerjemahan Alkitab

Selain kedua hal di atas, Allah ingin memulihkan hubunganNya dengan manusia dengan cara hidup berdampingan dengan manusia. Ia turun, ada di tengah-tengah kiti, berkomunikasi dengan kita, hingga akrab dengan kita. Itulah yang Ia kerjakan melalui Yesus Kristus.

Masalahnya, bila Tuhan ingin akrab tapi bahasanya berbeda gimana caranya nyambung? Allah ingin kita saling mengerti dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Ia tidak menerapkan aturan yang ketat supaya kita menguasai bahasa tertentu demi memahami Alkitab itu sendiri.

Sekarang masalahnya ada pada kita. Sudahkah kita bersikap positif atas inisiatif Tuhan yang ingin mengakrabkan diri pada kita? Alkitab yang diterjemahkan merupakan fasilitas yang mempermudah interaksi kita dengan Dia. Sudahkah kita menggunakan fasilitas itu dengan baik?

Apakah Isi dari Alkitab Sudah Berubah?

Gulungan Yesaya berusia 2.000 tahun yang ditemukan di Laut Mati. Isinya sangat mirip dengan yang ada di Alkitab sekarang

Masifnya penerjemahan Alkitab ini membuatnya rawan untuk terjadi kesalahan, apa yang membuat kita yakin bahwa terjemahan tersebut tidak mengubah isi asli dari Alkitab itu sendiri?

Ada penyalin Alkitab yang membuat kesalahan, tapi kesalahan itu tidak sampai mengubah isi Alkitab hingga isinya tidak bisa dipercaya lagi.

”Ajaran utama Kristen tidak didasarkan atas keterangan yang diragukan.” —Our Bible and the Ancient Manuscripts.

Yang paling sedikit membuat kesalahan adalah penyalin Yahudi.

”Selama beberapa abad setelah Kekristenan muncul, penulis Yahudi berulang kali menyalin teks Alkitab bahasa Ibrani dengan sangat teliti.” —Second Thoughts on the Dead Sea Scrolls.

Misalnya, naskah Yesaya di Gulungan Laut Mati lebih tua 1.000 tahun daripada naskah yang ditemukan sebelumnya. Apakah isinya sama dengan buku Yesaya yang kita miliki?

”Hanya ada sedikit kata yang ditambahkan atau dihilangkan.”—The Book. A History of the Bible.

Kesalahan yang dibuat oleh para penyalin yang kurang teliti, seperti huruf, kata, atau frasa yang tertukar, sekarang mudah ditemukan dan diperbaiki.

”Selain Perjanjian Baru, tidak ada naskah kuno lain di dunia ini yang isinya dinyatakan benar melalui begitu banyak bukti tertulis.”—The Books and the Parchments.

”Orang yang peduli kepada Alkitab bisa sangat lega karena isi papirus Alkitab paling tua yang ditemukan di Mesir sangat mirip dengan naskah yang sudah berulang kali disalin dan dicetak di Eropa.” —The Book. A History of the Bible.

Jadi kesimpulannya adalah isi dari Ayat Alkitab tidak berubah selama diterjemahkan selama ini.

Prosedur Penerjemahan Alkitab ke Dalam Bergagai Bahasa

Berikut ini hal-hal yang berkaitan dengan prinsip-prinsip penerjemahan sebagaimana diambil dari situs e-Misi:

  1. Menerjemahkan Injil dengan akurat, tanpa mengurangi, mengubah, merusak, atau menambah-nambahi makna dari teks asli. Keakuratan dalam penerjemahan Alkitab merupakan sarana komunikasi yang paling terpercaya dalam menyampaikan makna yang terkandung di dalamnya dengan setepat mungkin, yang ditentukan berdasarkan prinsip-prinsip penjelasan/penafsiran.
  2. Tidak hanya mengomunikasikan isi yang bersifat informatif, tapi juga emosi dan karakter dari teks asli. Inti sari dan pengaruh yang ada dalam teks terjemahan harus sama dengan yang dimiliki oleh bahasa asli.
  3. Menjaga variasi dalam teks asli. Bentuk tulisan yang dipakai dalam teks asli, seperti puisi, nubuatan, narasi, dan nasihat harus disajikan dalam bahasa target dengan fungsi komunikatif yang sama dengan teks asli. Pengaruh, hal-hal yang penting, dan nilai “mnemonic” (kata, puisi pendek, atau kalimat yang ditujukan untuk mengingat sesuatu hal) dari teks asli harus dijaga sebaik mungkin.
  4. Dengan jujur menunjukkan konteks sejarah dan budaya yang asli. Fakta-fakta dan peristiwa-peristiwa sejarah harus diterjemahkan tanpa mengubahnya. Sekaligus, penerjemahan harus dilakukan dengan suatu cara agar pembaca bahasa target, meski berada dalam situasi yang berbeda dan memunyai budaya yang berbeda, dapat memahami pesan yang penulis asli sampaikan kepada pembaca teks asli.
  5. Berusaha memastikan bahwa tidak ada unsur politik, ideologi, sosial, budaya, atau teologi yang ada sekarang yang dapat merusak penerjemahan.
  6. Mengakui bahwa terkadang penting untuk menyusun ulang bentuk teks dalam rangka mencapai ketepatan dan pemahaman yang maksimal. Karena struktur tata bahasa dan sintaksis antara dua bahasa yang berbeda sering kali tidak cocok, menjaga bentuk asli teks dalam menerjemahkan sering kali merupakan hal yang mustahil untuk dilakukan dan menyesatkan. Perubahan bentuk juga sering kali perlu dilakukan ketika menerjemahkan bahasa kiasan. Sebuah penerjemahan akan mengubah sebanyak atau sesedikit mungkin istilah selama itu dibutuhkan untuk menyampaikan pesan dari teks asli dengan seakurat mungkin.
  7. Menggunakan teks-teks Injil dalam bahasa asli yang paling dapat dipercaya sebagai dasar penerjemahan dan mengakui bahwa teks-teks itu selalu merupakan hal yang paling penting. Meski begitu, terjemahan Alkitab dalam bahasa lain yang dapat dipercaya mungkin dapat digunakan sebagai sumber teks yang mendukung proses penerjemahan.

 

Trending hari ini:
Mengenal Kristen Ortodoks, Arti, Sejarah, dan Perbedaan dengan Gereja Katolik Roma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

topik populer lainnya